Oleh Lely Ratna Dwi
Namaku Andita Anggraini. Sekarang ini aku sudah kelas XII IPA 2 di SMA Nusa Bangsa Jakarta Barat. Aku terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Bisa dibilang dari keluarga konglomerat. Ayahku bernama Brata Wijaya. Kata orang-orang ayahku seorang pengusaha yang memiliki perusahaan yang sangat maju tapi aku sendiri tak tahu apakah benar kata orang-orang, karena aku sendiri juga tak pernah melihat perusahan ayahku dan ibuku bernama Shinta Lestari, tetapi sekarang ibuku telah tiada karena kecelakaan mobil satu tahun yang lalu. Hidupku serasa hampa tanpanya. Aku merasa tak ada kasih sayang lagi untukku karena ayah tak pernah memperhatikan aku. Ia hanya mengurus bisnisnya saja. Hidupku bagaikan sebatang kara. Kucoba mencari perhatian dan kasih sayang ayah, tapi semua itu hanya membuang waktuku saja karena ayah tidak pernah peduli denganku.
Di sekolah aku selalu membuat ulah dan sering bertengkar dengan teman-temanku. Sempat berulang-ulang kali aku di panggil keruang Bp bahkan aku sempat ingin di keluarkan dari sekolah karena ulahku yang keterlaluan bahkan akhir-akhir ini aku sering membantah nasehat Bu Rahayu guru Bp di sekolahku. Itu semua aku lakukan untuk melampiaskan kekecewaanku kepada ayahku. Mungkin dengan kelakuan yang seperti itu ayahku akan memperhatikan aku. Namun, itu semua hanya angan-anganku saja. Akhir-akhir ini ayahku sangat sibuk. Aku sempat berpikir apakah ada masalah dengan perusahaannya?
Saat fajar menjelang dan mentari bersinar dengan terang kucoba membuka mataku. Hari ini hari Sabtu yang cerah, tapi tidak secerah kehidupan keluarhgaku. Pagi itu telepon ayah berbunyi. Aku angkat telepon.
“Halo selamat pagi, dengan Dita di sini,” sapaku pada orang di seberang sana.
“Selamat pagi!”
“Maaf dengan siapa saya berbicara?” tanyaku pada si penelepon itu.
“ Saya Hadiyanto pegawai bank Martawijaya, bisa berbicara dengan bapak Brata Wijaya?”
“Bisa. Tunggu sebentar, ya?”
Kupanggil ayahku yang sedang sarapan di meja sendirian.
“Ayah, ada telepon untuk ayah!”
“Ya, tunggu sebentar.”
Dengan ragu, ayahku megangkat telepon itu. Aku tersentak kaget ketika ayahku menjatuhkan telepon itu. Kulihat ayahku yang seketika termenung sedih. Kucoba bertanya pada ayah.
“Ayah, ada apa?” tanyaku dengan nada spontan. Dengan pelan-pelan ayahku menjelaskan semua yang terjadi selama ini.
“Nak, maafin ayah, ya. Ayah tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Ayah tidak pernah memperhatikan dirimu. Dan sekarang ayah sudah bangkrut. Ayah mengalami kerugian yang besar yang mendorong ayah meminjam uang dengan nominal yang cukup besar ke bank. Itu semua ayah lakukan untuk menyelamatkan perusahaan ayah, tetapi usaha ayah sia-sia. Perusahaan ayah tak bisa diselamatkan lagi. Dan sekarang, ayah tidak bisa membayar hutang-hutang itu. Terpaksa rumah ini dan perusahaan ayah disita oleh bank. Kita diberi waktu satu hari untuk segera mengosongkan rumah ini.”
“Apa? Pergi dari rumah ini, Yah?”
“Iya Nak, maafin ayah, ya?”
“Ya, Yah. Tidak apa-apa. Kita mulai hidup yang baru lagi.”
* * *
Hari ini aku tidak berangkat sekolah karena harus membereskan semua barang-barang milikku dari rumah yang mewah ini.
Waktu serasa cepat sekali berputar. Tak kusangka pagi telah datang kembali dan itu tandanya hari ini aku dan ayahku harus segera angkat kaki dari rumah ini. Kepergianku dan ayahku dihiasi dengan langit yang kelabu. Awan-awan hitam seakan mengikuti langkah kami.
Selangkah demi selangkah kami berjalan menuju terminal yang tak jauh dari rumah kami. Di sana banyak orang lalu-lalang hendak pergi atau pulang dari luar kota. Banyak penjual asongan menjajakan dagangannya. Bus-bus berjajar-jajar semwrawut. Para kernet dan kondektur berteriak-teriak berusaha merayu calon penumpang.
Di antara bus-bus itu satu yang kami cari, bus Gumelar. Bus jurusan Ciwidei Bandung. Lima jam kami berada di atas bus, samailah kami di tempat tujuan.
Di desa Sukamaju, Kecamatan Ciwidei Kabupaten Bandung itulah kami memulai hidup baru. Sekarang ayahku bukanlah pengusaha lagi, tapi hanya seorang petani teh di desa itu. Sekarang aku sekolah di SMAN 2 Ciwidei. Sekolahku yang sekarang berbeda jauh dengan sekolahku yang dulu. Sekolah ini hanya berdinding kayu-kayu yang mulai rapuh. Beratap genting yang bolong-bolong. Walaupun begitu, aku tetap bahagia karena aku mendapat teman-teman yang baik hati. Dan bukan hanya itu, ada yang lebih menggembirakan, sekarang ayah selalu memperhatikan aku, menyayangi aku, dan selalu menjaga aku setiap waktu.
“Ayah, selama satu tahun ini aku menunggu saat-saat seperti ini. Saat-saat ayah memerhatikan aku, menyayangi aku, dan menjaga aku dengan sepenuh hati,” kataku pada ayah.
“Iya, ayah tahu, memang dulu ayah tidak pernah memperhatikan kamu. Bahkan, dulu tak ada waktu untuk ayah bertemu denganmu. Namun, mulai sekarang ayah akan selalu menyeyangi Dita dengan sepenuh hati ayah.”
“Terima kasih, Yah,” kataku dengan gembira.
“Iya,” ucap ayah pendek.
Ku tak pernah menyangka apa yang kini telah terjadi padaku dan keluargaku. Tapi aku bahagia dengan apa yang kini telah terjadi walau awalnya menyakitkan hatiku. Aku berharap hidupku dan keluargaku bahagia selalu. Amien...
Kamis, 11 Maret 2010
Jumat, 26 Februari 2010
SEGITIGA LAMBANG CINTAKU ( REVISI )
OLEH : LELLY RATNA D [ IXA ]
Tak tahu kenapa aku jadi suka sama David. David itu anak terkeren di sekolahku di SMA Nusa Bangsa, dia kelas XII IPA 3 dan banyak cewek-cewek yang pastinya suka sama dia termasuk juga sahabatku sendiri. Tapi sahabatku enggak tahu kalau aku juga suka banget sama David.
Mentari telah bersinar dengan terang, waktunya siap-siap untuk berangkat sekolah tapi kayaknya aku bakalan telat deh… karena pagi ini aku bangun kesiangan. Tanpa sarapan akupun langsung beranjak pergi ke sekolah.
“Bunda, aku berangkat sekolah dulu !”
“Kamu enggak sarapan dulu din?” Tanya bunda padaku
“Enggak usah bun, Dinda sarapan di sekolah aja, soalnya Dinda sudah telat. Dinda berangkat dulu ya bun, Assalamualaikum” kataku sambil mencium tangan bunda
“ ya sudah kalau begitu, Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan nak!” pesan bunda
****
Setibaku di sekolah, kulihat gerbang sekolah hendak ditutup oleh pak penjaga sekolah. Kupercepat langkah kakiku untuk menuju gerbang. Tiba-tiba ada seorang cowok yang menabrakku hingga buku-buku yang ku bawa berjatuhan dan berserakan di jalan. Ternyata, Cowok itu David, orang yang selama ini aku sukai.
“Aduh…!” keluhku kesakitan
“eh, maaf ya… aku gag sengaja soalnya aku buru-buru” ucapnya sambil membantuku menata buku-bukuku yang berserakan di jalan
“Enggak apa-apa, aku juga salah kok, aku kurang hati-hati jalannya!”
“Ya sudah kalau begitu, ayo cepetan kita masuk, keburu gerbang nya ditutup!” ajak david
Akhirnya, aku dan David mempercepat langkah kami menuju gerbang, Tapi usaha kami gagal karena gerbangnya keburu ditutup. Kami pun dapat hukuman dari guru BP karena kita terlambat. Aku dan David di hukum untuk berdiri di depan tiang bendera sampai jam istirahat tiba. Selama itu, kita sempat ngobrol-ngobrol dan bercanda ria.
“eh dinda, ngomong-ngomong kamu udah punya cowok apa belum sih…?” celetuk david
“aku belum punya cowok, aku tu lagi jomblo soal nya belum ada yang cocok dengan aku. Kalau kamu pasti punya banyak cewek, secara kamu kan cowok terkeren di sekolah, ya kan?”
“ah, enggak kok aku juga lagi jomblo , tapi sementara ini aku lagi suka sama satu cewek di sekolah ini”
“siapa tuh…?” Tanyaku penasaran
“Ada deh… rahasia dong!” jawabnya dengan sedikit senyuman
“ya, udah deh, kalau itu rahasia”
Lama aku dan David terdiam tiba-tiba David bertanya padaku.
“Dinda, aku boleh minta no Hp kamu apa enggak?” pinta David dengan agak malu
“Boleh…!” jawabku dengan sedikit senyuman
“Kalau gitu nanti malam aku calling kamu ya…!”
“Ok” jawabku dengan mengacungkan jempol
Bel istirahatpun telah berbunyi dan hukumanku dengan David telah usai, waktunya aku dan David kembali ke kelas masing-masing.
“hei din, gimana capek apa nggak?” Tanya laras, sahabatku saat aku tiba di kelas
“ya capeklah… nama nya juga dihukum” jawabku kesal
“masak sih capek? Dihukumnya kan bareng si keren di sekolah kita” sindir laras
“Apanya yang keren, biasa aja kale…!” jawabku mengelak
Tapi sebenernya David itu emang keren sih.. dan dia sudah bikin aku jatuh cinta sama dia tapi, banyak banget cewek-cewek yang lebih cantik dari pada aku yang menyukai David tak terkecuali laras.
“Woi…! Jangan ngalamun dong… mikirin David ya?” hentak laras
“Idih enggak kok, ntar kamu jaloes lagi” godaku
“Emang sih tapi cuman dikit kok” ujar laras
“Ngapain jaloes sama aku, aku gak bakalan suka ama David kok!” elakku
“ya.. bagus deh kalau gitu, kamu emang sahabat ku yang paling pengertian” puji laras
“ya iyalah siapa dulu, dinda gitu lho!”
Aku emang gag sebaik yang laras kira, aku juga gag pernah berfikir kalau aku jadi orang yang munafik karena cinta. Tapi aku juga sangat menyesal kenapa aku bisa menyukai cowok yang juga di sukai sahabatku.
Tak lama kemudian bel masuk pun telah berbunyi, dan pelajaranpun dimulai tapi entah kenapa saat pelajaran dimulai pikiranku melayang pada David dan tanpa ku sadari ternyata dari tadi aku sudah diperhatikan guru.
“Dinda!” tegur bu ratih guru matematikaku
“Ya…Bu” ucapku dengan spontan
“Kamu kenapa? Kok ngelamun terus?”
“Aku tidak apa-apa bu!”
“Ya sudah kalau begitu, perhatikan penjelasan Ibu”
“Baik Bu”
Waktu terus merangkak dengan cepat tak ku sangka lonceng telah berdenting dan itu tanda nya waktu pulang telah tiba. Siswa-Siswi berhamburan keluar dari kelas nya masing-masing. Aku dan Laras langsung pergi ketempat biasanya, dimana kakak kami menjemput kami. Selang beberapa menit laras sudah dijemput kakak nya sedangkan kakak ku belum juga datang menjemput ku.
Lama aku menunggu tapi kakak ku tak datang-datang menjemput ku
Tiba-tiba David datang dan mengajak ku untuk pulang bersama, setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku menerima tawaran itu.
****
Disepanjang perjalanan, aku bercanda ria dengan David tapi aku tersentak kaget ketika David menyatakan cintanya padaku.
“Dinda, aku cinta kamu!” ucap David denagan georogi
Seketika aku bungkam tak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba aku sampai di depan rumah ku, tanpa berkata-kata aku langsung masuk kedalam rumah.
Malam pun tiba bintang-bintang yang bertaburan di langit dan bulan pun tersenyum padaku. Aku merebahkan diri di kasur mempertimbangkan tawaran David, aku bingung sebenarnya aku cinta sama David tapi, Laras juga cinta sama dia. Tiba-tiba HP ku berbunyi ternyata David menelpon ku dengan ragu aku mengangkat panggilan itu.
“Ada apa?” tanyaku Datar
“Dinda bagaimana dengan ucapan ku yang tadi siang?”
“Maaf David, aku gag bisa nerima cinta mu, karena Laras juga cinta pada mu.Jika kamu benar-benar cinta padaku, apa kamu mau berkorban demi aku!” ujar ku penuh perasaan
“Tentu, memang kamu mau aku ngelakuin apa?” balas nya dengan keyakinan
“Aku ingin kamu menjadi kekesih sahabat ku laras” pinta ku
“Tapi…”
“Kalu kamu enggak mau ya udah!” ucapku dengan ketus
dan aku langsung memutuskan telepon ku
Waktu berlalu begitu cepat, ku rasa baru sekejap ku memejamkan mata tapi pagi telah datang, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada ku pagi ini.
****
Tepat pukul 06.30 aku berangkat ke sekolah, setibanya ku di sekolah ku lihat Laras sedang tersenyum dengan bahagia.
“Woi napain senyam-senyum sendiri? Lagi seneng ya?” tanyaku mengagetkan Laras
“ya iyalah aku seneng, siapa sih yang gak seneng kalu di tembak sang pujaan hati” jawab laras dengan semangat
Sejenak ku berpikir apakah itu David yang menembak Laras, untuk mendapatkan kepastian aku bertanya pada Laras.
“Ras, kamu di tembak siapa sih?” tanyaku penasaran
“Ya… Davidlah, siapa lagi kalau bukan dia” jawab laras spontan
Aku tersentak kaget, sesaat aku terdiam dan membisu, mataku terbelalak menahan air mata tak mungkin air mata itu terjatuh di depan Laras, hati ku hancur disayat-sayat aku tak kuasa menahan air mata, aku pun pergi meninggalkan Laras, aku berlari dengan air mata yang bercucuran. Aku menuju ke kamar mandi untuk menuangkan tangis ku, aku sadar ini memang kemauan ku. Aku berpikir lebih baik kehilangan kekasih dari pada kehilangan sahabat, walau menyakitkan hati.
Tak tahu kenapa aku jadi suka sama David. David itu anak terkeren di sekolahku di SMA Nusa Bangsa, dia kelas XII IPA 3 dan banyak cewek-cewek yang pastinya suka sama dia termasuk juga sahabatku sendiri. Tapi sahabatku enggak tahu kalau aku juga suka banget sama David.
Mentari telah bersinar dengan terang, waktunya siap-siap untuk berangkat sekolah tapi kayaknya aku bakalan telat deh… karena pagi ini aku bangun kesiangan. Tanpa sarapan akupun langsung beranjak pergi ke sekolah.
“Bunda, aku berangkat sekolah dulu !”
“Kamu enggak sarapan dulu din?” Tanya bunda padaku
“Enggak usah bun, Dinda sarapan di sekolah aja, soalnya Dinda sudah telat. Dinda berangkat dulu ya bun, Assalamualaikum” kataku sambil mencium tangan bunda
“ ya sudah kalau begitu, Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan nak!” pesan bunda
****
Setibaku di sekolah, kulihat gerbang sekolah hendak ditutup oleh pak penjaga sekolah. Kupercepat langkah kakiku untuk menuju gerbang. Tiba-tiba ada seorang cowok yang menabrakku hingga buku-buku yang ku bawa berjatuhan dan berserakan di jalan. Ternyata, Cowok itu David, orang yang selama ini aku sukai.
“Aduh…!” keluhku kesakitan
“eh, maaf ya… aku gag sengaja soalnya aku buru-buru” ucapnya sambil membantuku menata buku-bukuku yang berserakan di jalan
“Enggak apa-apa, aku juga salah kok, aku kurang hati-hati jalannya!”
“Ya sudah kalau begitu, ayo cepetan kita masuk, keburu gerbang nya ditutup!” ajak david
Akhirnya, aku dan David mempercepat langkah kami menuju gerbang, Tapi usaha kami gagal karena gerbangnya keburu ditutup. Kami pun dapat hukuman dari guru BP karena kita terlambat. Aku dan David di hukum untuk berdiri di depan tiang bendera sampai jam istirahat tiba. Selama itu, kita sempat ngobrol-ngobrol dan bercanda ria.
“eh dinda, ngomong-ngomong kamu udah punya cowok apa belum sih…?” celetuk david
“aku belum punya cowok, aku tu lagi jomblo soal nya belum ada yang cocok dengan aku. Kalau kamu pasti punya banyak cewek, secara kamu kan cowok terkeren di sekolah, ya kan?”
“ah, enggak kok aku juga lagi jomblo , tapi sementara ini aku lagi suka sama satu cewek di sekolah ini”
“siapa tuh…?” Tanyaku penasaran
“Ada deh… rahasia dong!” jawabnya dengan sedikit senyuman
“ya, udah deh, kalau itu rahasia”
Lama aku dan David terdiam tiba-tiba David bertanya padaku.
“Dinda, aku boleh minta no Hp kamu apa enggak?” pinta David dengan agak malu
“Boleh…!” jawabku dengan sedikit senyuman
“Kalau gitu nanti malam aku calling kamu ya…!”
“Ok” jawabku dengan mengacungkan jempol
Bel istirahatpun telah berbunyi dan hukumanku dengan David telah usai, waktunya aku dan David kembali ke kelas masing-masing.
“hei din, gimana capek apa nggak?” Tanya laras, sahabatku saat aku tiba di kelas
“ya capeklah… nama nya juga dihukum” jawabku kesal
“masak sih capek? Dihukumnya kan bareng si keren di sekolah kita” sindir laras
“Apanya yang keren, biasa aja kale…!” jawabku mengelak
Tapi sebenernya David itu emang keren sih.. dan dia sudah bikin aku jatuh cinta sama dia tapi, banyak banget cewek-cewek yang lebih cantik dari pada aku yang menyukai David tak terkecuali laras.
“Woi…! Jangan ngalamun dong… mikirin David ya?” hentak laras
“Idih enggak kok, ntar kamu jaloes lagi” godaku
“Emang sih tapi cuman dikit kok” ujar laras
“Ngapain jaloes sama aku, aku gak bakalan suka ama David kok!” elakku
“ya.. bagus deh kalau gitu, kamu emang sahabat ku yang paling pengertian” puji laras
“ya iyalah siapa dulu, dinda gitu lho!”
Aku emang gag sebaik yang laras kira, aku juga gag pernah berfikir kalau aku jadi orang yang munafik karena cinta. Tapi aku juga sangat menyesal kenapa aku bisa menyukai cowok yang juga di sukai sahabatku.
Tak lama kemudian bel masuk pun telah berbunyi, dan pelajaranpun dimulai tapi entah kenapa saat pelajaran dimulai pikiranku melayang pada David dan tanpa ku sadari ternyata dari tadi aku sudah diperhatikan guru.
“Dinda!” tegur bu ratih guru matematikaku
“Ya…Bu” ucapku dengan spontan
“Kamu kenapa? Kok ngelamun terus?”
“Aku tidak apa-apa bu!”
“Ya sudah kalau begitu, perhatikan penjelasan Ibu”
“Baik Bu”
Waktu terus merangkak dengan cepat tak ku sangka lonceng telah berdenting dan itu tanda nya waktu pulang telah tiba. Siswa-Siswi berhamburan keluar dari kelas nya masing-masing. Aku dan Laras langsung pergi ketempat biasanya, dimana kakak kami menjemput kami. Selang beberapa menit laras sudah dijemput kakak nya sedangkan kakak ku belum juga datang menjemput ku.
Lama aku menunggu tapi kakak ku tak datang-datang menjemput ku
Tiba-tiba David datang dan mengajak ku untuk pulang bersama, setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku menerima tawaran itu.
****
Disepanjang perjalanan, aku bercanda ria dengan David tapi aku tersentak kaget ketika David menyatakan cintanya padaku.
“Dinda, aku cinta kamu!” ucap David denagan georogi
Seketika aku bungkam tak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba aku sampai di depan rumah ku, tanpa berkata-kata aku langsung masuk kedalam rumah.
Malam pun tiba bintang-bintang yang bertaburan di langit dan bulan pun tersenyum padaku. Aku merebahkan diri di kasur mempertimbangkan tawaran David, aku bingung sebenarnya aku cinta sama David tapi, Laras juga cinta sama dia. Tiba-tiba HP ku berbunyi ternyata David menelpon ku dengan ragu aku mengangkat panggilan itu.
“Ada apa?” tanyaku Datar
“Dinda bagaimana dengan ucapan ku yang tadi siang?”
“Maaf David, aku gag bisa nerima cinta mu, karena Laras juga cinta pada mu.Jika kamu benar-benar cinta padaku, apa kamu mau berkorban demi aku!” ujar ku penuh perasaan
“Tentu, memang kamu mau aku ngelakuin apa?” balas nya dengan keyakinan
“Aku ingin kamu menjadi kekesih sahabat ku laras” pinta ku
“Tapi…”
“Kalu kamu enggak mau ya udah!” ucapku dengan ketus
dan aku langsung memutuskan telepon ku
Waktu berlalu begitu cepat, ku rasa baru sekejap ku memejamkan mata tapi pagi telah datang, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada ku pagi ini.
****
Tepat pukul 06.30 aku berangkat ke sekolah, setibanya ku di sekolah ku lihat Laras sedang tersenyum dengan bahagia.
“Woi napain senyam-senyum sendiri? Lagi seneng ya?” tanyaku mengagetkan Laras
“ya iyalah aku seneng, siapa sih yang gak seneng kalu di tembak sang pujaan hati” jawab laras dengan semangat
Sejenak ku berpikir apakah itu David yang menembak Laras, untuk mendapatkan kepastian aku bertanya pada Laras.
“Ras, kamu di tembak siapa sih?” tanyaku penasaran
“Ya… Davidlah, siapa lagi kalau bukan dia” jawab laras spontan
Aku tersentak kaget, sesaat aku terdiam dan membisu, mataku terbelalak menahan air mata tak mungkin air mata itu terjatuh di depan Laras, hati ku hancur disayat-sayat aku tak kuasa menahan air mata, aku pun pergi meninggalkan Laras, aku berlari dengan air mata yang bercucuran. Aku menuju ke kamar mandi untuk menuangkan tangis ku, aku sadar ini memang kemauan ku. Aku berpikir lebih baik kehilangan kekasih dari pada kehilangan sahabat, walau menyakitkan hati.
Rabu, 24 Februari 2010
SEGITIGA LAMBANG CINTAKU
OLEH : LELLY RATNA D [ IXA ]
Tak tahu kenapa aku jadi suka sama David. David itu anak terkeren di sekolah ku di SMA Nusa Bangsa, dia kelas XII IPA 3 dan banyak cewek-cewek yang pastinya suka sama dia termasuk juga sahabat ku sendiri. Tapi sahabat ku enggak tahu kalau aku juga suka banget sama David.
Mentari telah bersinar dengan terang, waktunya siap-siap untuk berangkat sekolah tapi kayaknya aku bakalan telat deh… karena pagi ini aku bangun kesiangan. Tanpa sarapan aku pun langsung beranjak pergi ke sekolah.
“Bunda, aku berangkat sekolah dulu !”
“Kamu enggak sarapan dulu din?” Tanya bunda pada ku
“Enggak usah bun, Dinda sarapan di sekolah aja, soalnya Dinda sudah telat. Dinda berangkat dulu ya bun, Assalamualaikum” kataku sambil mencium tangan bunda
“ ya sudah kalau begitu, Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan nak!” pesan bunda
Setiba ku di sekolah, ku lihat gerbang sekolah hendak ditutup oleh pak penjaga sekolah. Kupercepat langkah kakiku untuk menuju gerbang. Tiba-tiba ada seorang cowok yang menabrak ku hingga buku-buku yang ku bawa berjatuhan dan berserakan di jalan. Ternyata, Cowok itu David, orang yang selama ini aku sukai.
“Aduh…!” keluhku kesakitan
“eh, maaf ya… aku gag sengaja soalnya aku buru-buru” ucapnya sambil membantuku menata buku-buku ku yang berserakan di jalan
“Enggak apa-apa, aku juga salah kok, aku kurang hati-hati jalannya!”
“Ya sudah kalau begitu, ayo cepetan kita masuk, keburu gerbang nya ditutup!” ajak david
Akhirnya, aku dan David mempercepat langkah kami menuju gerbang, Tapi usaha kami gagal karena gerbangnya keburu ditutup. Kami pun dapat hukuman dari guru BP karena kita terlambat. Aku dan David di hukum untuk berdiri di depan tiang bendera sampai jam istirahat tiba.
“eh David, ngomong-ngomong cowok sekeren kamu udah punya cewek apa belum sih..?” tanyaku penasaran
“sementara ini sih belum ada tapi ada satu cewek yang aku suka”
“siapa tuh ...?”
“Ada deh… rahasia dong!” jawab nya dengan sedikit senyuman
“ya, udah dech, kalau itu rahasia”
Lama aku dan David terdiam tiba-tiba David bertanya padaku.
“Dinda, aku boleh minta no hp kamu apa enggak?” pinta David dengan agak malu
“Boleh…!” jawab ku dengan sedikit senyuman
“Kalau gitu nanti malam aku calling kamu ya…!”
“Ok,” jawabku dengan mengacungkan jembol
Bel istirahat pun telah berbunyi dan hukuman ku dengan David telah usai, wakrtunya aku dan David kembali ke kelas masing-masing.
“hei din, gimana capek apa nggak?” Tanya laras, sahabat ku saat aku tiba di kelas
“ya capeklah… nama nya juga dihukum” jawab ku kesal
“masak sich capek? dihukumnya kan bareng si keren di sekolah kita” sindir laras
“Apanya yang keren, biasa aja kale…!” jawab ku mengelak
Tapi sebenernya David itu emang keren sih.. dan dia udah bikin aku jatuh cinta sama dia tapi, banyak banget cewek-cewek yang lebih cantik dari paca aku yang menyukai David tak terkecuali laras.
“Woi…! Jangan ngalamun dong… mikirin David ya?” hentak laras
“Idih enggak kog, ntar kamu jaloes lagi” godaku
“Emang sih tapi cuman dikit kog” ujar laras
“Ngapain joloes ama aku, aku gak bakalan suka ama David kok!” elakku
“ya.. bagus deh kalau gitu, kamu emang sahabat ku yang paling pengertian” puji laras
“ya iyalah siapa dulu, dinda gitu lho!”
Aku emang gag sebaik yang laras kira, aku juga gag pernah berfikir kalau aku jadi orang yang munafik karena cinta. Tapi aku juga sangat menyesal kenapa aku bisa menyukai cowok yang juga di sukai sahabat ku.
Tak lama kemudian bel masuk pun telah berbunyi, dan pelajaran pun dimulai tapi entah kenapa saat pelajaran dimulai pikiranku melayang pada David dan tanpa ku sadari ternyata dari tadi aku sudah diperhatikan guru.
“Dinda!” tegur bu ratih guru matematika ku
“Ya…Bu” ucapku dengan spontan
“Kamu kenapa? Kok ngelamun terus?”
“Aku tidak apa-apa bu!”
“Ya sudah kalau begitu, perhatikan penjelasan Ibu”
“Baik Bu”
Waktu terus merangkak dengan cepat tak ku sangka lonceng telah berdenting dan itu tanda nya waktu pulang telah tiba. Siswa-Siswi berhamburan keluar dari kelas nya masing-masing. Aku dan Laras langsung pergi ketempat biasanya, dimana kakak kami menjemput kami. Selang beberapa menit laras sudah dijemput kakak nya sedangkan kakak ku belum juga datang menjemput ku.
Lama aku menunggu tapi kakak ku tak datang-datang menjemput ku
Tiba-tiba David datang dan mengajak ku untuk pulang bersama, setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku menerima tawaran itu.
Disepanjang perjalanan, aku bercanda ria dengan David tapi aku tersentak kaget ketika David menyatakan cintanya padaku.
“Dinda, aku cinta kamu!” ucap David denagan georogi
Seketika aku bungkam tak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba aku sampai di depan rumah ku, tanpa berkata-kata aku langsung masuk kedalam rumah.
Malam pun tiba bintang-bintang yang bertaburan di langit dan bulan pun tersenyum padaku. Aku merebahkan diri di kasur mempertimbangkan tawaran David, aku bingung sebenarnya aku cinta sama David tapi, Laras juga cinta sama dia. Tiba-tiba HP ku berbunyi ternyata David menelpon ku dengan ragu aku mengangkat panggilan itu.
“Ada apa?” tanyaku Datar
“Dinda bagaimana dengan ucapan ku yang tadi siang?”
“Maaf David, aku gag bisa nerima cinta mu, karena Laras juga cinta pada mu.Jika kamu benar-benar cinta padaku, apa kamu mau berkorban demi aku!” ujar ku penuh perasaan
“Tentu, memang kamu mau aku ngelakuin apa?” balas nya dengan keyakinan
“Aku ingin kamu menjadi kekesih sahabat ku laras” pinta ku
“Tapi…”
“Kalu kamu enggak mau ya udah!” ucapku dengan ketus
dan aku langsung memutuskan telepon ku
Waktu berlalu begitu cepat, ku rasa baru sekejap ku memejamkan mata tapi pagi telah datang, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada ku pagi ini.
Tepat pukul 06.30 aku berangkat ke sekolah, setibanya ku di sekolah ku lihat Laras sedang tersenyum dengan bahagia.
“Woi napain senyam-senyum sendiri? Lagi seneng ya?” tanyaku mengagetkan Laras
“ya iyalah aku seneng, siapa sih yang gak seneng kalu di tembak sang pujaan hati” jawab laras dengan semangat
Sejenak ku berpikir apakah itu David yang menembak Laras, untuk mendapatkan kepastian aku bertanya pada Laras.
“Ras, kamu di tembak siapa sih?” tanyaku penasaran
“Ya… Davidlah, siapa lagi kalau bukan dia” jawab laras spontan
Aku tersentak kaget, sesaat aku terdiam dan membisu, mataku terbelalak menahan air mata tak mungkin air mata itu terjatuh di depan Laras, hati ku hancur disayat-sayat aku tak kuasa menahan air mata, aku pun pergi meninggalkan Laras, aku berlari dengan air mata yang bercucuran. Aku menuju ke kamar mandi untuk menuangkan tangis ku, aku sadar ini memang kemauan ku. Aku berpikir lebih baik kehilangan kekasih dari pada kehilangan sahabat, walau menyakitkan hati.
Tak tahu kenapa aku jadi suka sama David. David itu anak terkeren di sekolah ku di SMA Nusa Bangsa, dia kelas XII IPA 3 dan banyak cewek-cewek yang pastinya suka sama dia termasuk juga sahabat ku sendiri. Tapi sahabat ku enggak tahu kalau aku juga suka banget sama David.
Mentari telah bersinar dengan terang, waktunya siap-siap untuk berangkat sekolah tapi kayaknya aku bakalan telat deh… karena pagi ini aku bangun kesiangan. Tanpa sarapan aku pun langsung beranjak pergi ke sekolah.
“Bunda, aku berangkat sekolah dulu !”
“Kamu enggak sarapan dulu din?” Tanya bunda pada ku
“Enggak usah bun, Dinda sarapan di sekolah aja, soalnya Dinda sudah telat. Dinda berangkat dulu ya bun, Assalamualaikum” kataku sambil mencium tangan bunda
“ ya sudah kalau begitu, Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan nak!” pesan bunda
Setiba ku di sekolah, ku lihat gerbang sekolah hendak ditutup oleh pak penjaga sekolah. Kupercepat langkah kakiku untuk menuju gerbang. Tiba-tiba ada seorang cowok yang menabrak ku hingga buku-buku yang ku bawa berjatuhan dan berserakan di jalan. Ternyata, Cowok itu David, orang yang selama ini aku sukai.
“Aduh…!” keluhku kesakitan
“eh, maaf ya… aku gag sengaja soalnya aku buru-buru” ucapnya sambil membantuku menata buku-buku ku yang berserakan di jalan
“Enggak apa-apa, aku juga salah kok, aku kurang hati-hati jalannya!”
“Ya sudah kalau begitu, ayo cepetan kita masuk, keburu gerbang nya ditutup!” ajak david
Akhirnya, aku dan David mempercepat langkah kami menuju gerbang, Tapi usaha kami gagal karena gerbangnya keburu ditutup. Kami pun dapat hukuman dari guru BP karena kita terlambat. Aku dan David di hukum untuk berdiri di depan tiang bendera sampai jam istirahat tiba.
“eh David, ngomong-ngomong cowok sekeren kamu udah punya cewek apa belum sih..?” tanyaku penasaran
“sementara ini sih belum ada tapi ada satu cewek yang aku suka”
“siapa tuh ...?”
“Ada deh… rahasia dong!” jawab nya dengan sedikit senyuman
“ya, udah dech, kalau itu rahasia”
Lama aku dan David terdiam tiba-tiba David bertanya padaku.
“Dinda, aku boleh minta no hp kamu apa enggak?” pinta David dengan agak malu
“Boleh…!” jawab ku dengan sedikit senyuman
“Kalau gitu nanti malam aku calling kamu ya…!”
“Ok,” jawabku dengan mengacungkan jembol
Bel istirahat pun telah berbunyi dan hukuman ku dengan David telah usai, wakrtunya aku dan David kembali ke kelas masing-masing.
“hei din, gimana capek apa nggak?” Tanya laras, sahabat ku saat aku tiba di kelas
“ya capeklah… nama nya juga dihukum” jawab ku kesal
“masak sich capek? dihukumnya kan bareng si keren di sekolah kita” sindir laras
“Apanya yang keren, biasa aja kale…!” jawab ku mengelak
Tapi sebenernya David itu emang keren sih.. dan dia udah bikin aku jatuh cinta sama dia tapi, banyak banget cewek-cewek yang lebih cantik dari paca aku yang menyukai David tak terkecuali laras.
“Woi…! Jangan ngalamun dong… mikirin David ya?” hentak laras
“Idih enggak kog, ntar kamu jaloes lagi” godaku
“Emang sih tapi cuman dikit kog” ujar laras
“Ngapain joloes ama aku, aku gak bakalan suka ama David kok!” elakku
“ya.. bagus deh kalau gitu, kamu emang sahabat ku yang paling pengertian” puji laras
“ya iyalah siapa dulu, dinda gitu lho!”
Aku emang gag sebaik yang laras kira, aku juga gag pernah berfikir kalau aku jadi orang yang munafik karena cinta. Tapi aku juga sangat menyesal kenapa aku bisa menyukai cowok yang juga di sukai sahabat ku.
Tak lama kemudian bel masuk pun telah berbunyi, dan pelajaran pun dimulai tapi entah kenapa saat pelajaran dimulai pikiranku melayang pada David dan tanpa ku sadari ternyata dari tadi aku sudah diperhatikan guru.
“Dinda!” tegur bu ratih guru matematika ku
“Ya…Bu” ucapku dengan spontan
“Kamu kenapa? Kok ngelamun terus?”
“Aku tidak apa-apa bu!”
“Ya sudah kalau begitu, perhatikan penjelasan Ibu”
“Baik Bu”
Waktu terus merangkak dengan cepat tak ku sangka lonceng telah berdenting dan itu tanda nya waktu pulang telah tiba. Siswa-Siswi berhamburan keluar dari kelas nya masing-masing. Aku dan Laras langsung pergi ketempat biasanya, dimana kakak kami menjemput kami. Selang beberapa menit laras sudah dijemput kakak nya sedangkan kakak ku belum juga datang menjemput ku.
Lama aku menunggu tapi kakak ku tak datang-datang menjemput ku
Tiba-tiba David datang dan mengajak ku untuk pulang bersama, setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku menerima tawaran itu.
Disepanjang perjalanan, aku bercanda ria dengan David tapi aku tersentak kaget ketika David menyatakan cintanya padaku.
“Dinda, aku cinta kamu!” ucap David denagan georogi
Seketika aku bungkam tak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba aku sampai di depan rumah ku, tanpa berkata-kata aku langsung masuk kedalam rumah.
Malam pun tiba bintang-bintang yang bertaburan di langit dan bulan pun tersenyum padaku. Aku merebahkan diri di kasur mempertimbangkan tawaran David, aku bingung sebenarnya aku cinta sama David tapi, Laras juga cinta sama dia. Tiba-tiba HP ku berbunyi ternyata David menelpon ku dengan ragu aku mengangkat panggilan itu.
“Ada apa?” tanyaku Datar
“Dinda bagaimana dengan ucapan ku yang tadi siang?”
“Maaf David, aku gag bisa nerima cinta mu, karena Laras juga cinta pada mu.Jika kamu benar-benar cinta padaku, apa kamu mau berkorban demi aku!” ujar ku penuh perasaan
“Tentu, memang kamu mau aku ngelakuin apa?” balas nya dengan keyakinan
“Aku ingin kamu menjadi kekesih sahabat ku laras” pinta ku
“Tapi…”
“Kalu kamu enggak mau ya udah!” ucapku dengan ketus
dan aku langsung memutuskan telepon ku
Waktu berlalu begitu cepat, ku rasa baru sekejap ku memejamkan mata tapi pagi telah datang, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada ku pagi ini.
Tepat pukul 06.30 aku berangkat ke sekolah, setibanya ku di sekolah ku lihat Laras sedang tersenyum dengan bahagia.
“Woi napain senyam-senyum sendiri? Lagi seneng ya?” tanyaku mengagetkan Laras
“ya iyalah aku seneng, siapa sih yang gak seneng kalu di tembak sang pujaan hati” jawab laras dengan semangat
Sejenak ku berpikir apakah itu David yang menembak Laras, untuk mendapatkan kepastian aku bertanya pada Laras.
“Ras, kamu di tembak siapa sih?” tanyaku penasaran
“Ya… Davidlah, siapa lagi kalau bukan dia” jawab laras spontan
Aku tersentak kaget, sesaat aku terdiam dan membisu, mataku terbelalak menahan air mata tak mungkin air mata itu terjatuh di depan Laras, hati ku hancur disayat-sayat aku tak kuasa menahan air mata, aku pun pergi meninggalkan Laras, aku berlari dengan air mata yang bercucuran. Aku menuju ke kamar mandi untuk menuangkan tangis ku, aku sadar ini memang kemauan ku. Aku berpikir lebih baik kehilangan kekasih dari pada kehilangan sahabat, walau menyakitkan hati.
Langganan:
Postingan (Atom)